Hidup adalah perjuangan. Dan perjuangan membutuhkan pengorbanan tanpa batas dan waktu buat seorang ayah. Apalagi berjuang untuk mencari nafkah buat keluarganya tak ada kata menyerah karena letih. Hal itu sering dilakoni berjuta juta ayah di Indonesia saat ini.
Muhammad Imran (53) penduduk Pangkalan Berandan -Sumatera Utara datang ke Sidikalang- Kabupaten Dairi sebagai penjualan kerupuk keliling.
Dan kehadiran bapak ini hampir terlihat setiap minggu di kota penghasil kopi ini.

Ayah 3 orang anak ini terlihat tegar memikul ratusan kerupuk berkelling kampung maupun desa di sekitar kota Sidikalang.
Berjalan kaki sembari menawarkan kerupuk kepada pembeli terus mengintari pelosok dan gang tanpa peduli beban berat dipikul di pundaknya.
Peluh keringat membasahi tubuhnya sudah biasa demi mendapatkan rejeki untuk dibawa pulang buat keluarga.
Ketika bincang bincang dengan media ini Rabu (14/1) Bapak Imran kelihatan tidak mengeluh walau panas terik matahari mengguyur tubuh namun tetap kelihatan semangat saat bincang bincang dengan media ini.
Profesi penjual kerupuk ini sudah dilakoni Imran hampir tujuh bulan bersama rombongan temannya satu kampung.
Mereka saat ini berada di Kabupaten Dairi kalau dihitung jarak Pangkalan Berandan ke Sidikalang ada sekitar 350 km jauhnya. semua ini demi memperjuangkan anak dan keluarga agar bisa makan dan sekolah, ucapnya.
Disebutkan, dia berjalan kaki masuk kampung keluar kampung, Sidikalang lebih kurang 20 kilometer jauhnya sambil memikul kerupuk beratnya lebih kurang 20 kilogram , ucapnya ramah.
Kerupuk yang dikemas dalam pelastik disebutkan milik juragannya di Langkat. Dan dia cuma menjual kepada pembeli. Modal Rp.4000/bungkus dan dijual Rp.5000. Jika ada rejeki, kerupuk habis sampai 150 bungkus ada keuntungan Rp.150.000 kotor karena uang keluar untuk makan minum satu hari lebih kurang Rp 50.000 ” yah..paling bersih dapat 100 ribu” ucapnya.
Susah Cari Kerja Lain
Sebelum berjualan kerupuk keliling, sekitar setahun lalu Muhammad Imran, pernah berkerja di salah satu rumah makan di kota Lhok Seumawe NAD. Namun dia berhenti. Setelah berhenti, ternyata mencari kerja ujar Imran, tidaklah mudah. Dan akhirnya dia memutuskan berjualan kerupuk keliling bergabung dengan temannya satu toke.
Keliling Sumatera Utara Dan Aceh
Ternyata Bapak penjual kerupuk ini bukan sendiri namun ada bersama rombongan teman temannya 8 orang lagi. Disebutkan lagi, selain ke Kabupaten Dairi. Daerah Kota kota lain, Diantaranya Barus (Tapteng) Tanah Karo- Kutacane dan Sumbusallam (NAD)
Masih Menyewa rumah
Selain mencari rejeki untuk keluarga ternyata ada hal lain yang dirasa perlu diperjuangkan oleh Muhammad Imran. Dia dan keluarganya, belum memiliki rumah sendiri dan masih mengontrak ” rumah masih ngontrak sehingga mesti bekerja keras” ucapnya agak sedikit lirih.
Pembeli Baik Baik
Ketika ditanyakan apakah sering ada kendala dilapangan yang dihadapi. Imran dengan senyum bilang tidak ada, semua aman. Dan pembeli baik baik hampir di seluruh daerah yang dijalani.
” umumnya pembeli baik baik dan tidak ada mengganggu mungkin karena dilihat kami orang susah. dengan membeli kerupuk, mereka telah memberikan bantuan kepada kami orang susah, ujarnya sedikit sedih ketika terlihat mata yang hampir berkaca kaca.
Ketika disinggung antara perasaan senang dan sedih saat berjualan . Imran mengatakan jika perasaaan paling bahagia dirasakannya saat kerupuknya habis terjual karena pasti ada rejeki dibawa pulang sementara perasaan sedih ketika cuaca hujan dan kerupuk banyak yang kurang laku
Akan Terus Bejuang Sampai Batas Tenaga.
Ketika ditanya mau sampai kapan menjadi penjual kerupuk keliling karena usia yang kurang muda lagi? Ayah tiga orang anak ini menjawab lugas, sampai hayat masih dikandung badan diberikan Tuhan. Dia akan tetap berjuang menjual kerupuk keliling demi ekonomi keluarganya.
” sampai masih diberi Tuhan umur dan kesehatan. Saya akan berjualan untuk memperjuangkan pendidikan anak anakku” ujarnya.
Nasib sebagai penjual kerupuk keliling antar daerah di akui Imran, capek. Naik bus pick up milik juragannya dari Pangkalan Berandan ke Sidikalang memakan waktu hampir 7 sampai 8 jam dijalan, tentu badan terasa letih. Setelah itu lagi berkeliling jalan kaki menjajakan dagangan lebih kurang 20 kilometer.
Diakhir pembicaraannya. Imran berharap dan terus berDoa dan dalam sujudnya bermohon kepada Allah agar memberikan nasib lebih baik lagi kepada anak anaknya tidak susah seperti dirinya (Ginting)





























