PAKPAK BHARAT – Bupati Pakpak Bharat Franc Bernhard Tumanggor membuka rapat pemetaan potensi areal preservasi wilayah Kabupaten Pakpak Bharat bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi dan menghitung potensi kawasan untuk perlindungan ekosistem setempat.
Kepala BBKSDA Sumut Novita Kusuma Wardani menjelaskan sekitar 80 persen wilayah Pakpak Bharat berupa kawasan hutan, sehingga sangat berpotensi dikembangkan menjadi area konservasi. Ia pun memberikan apresiasi atas konsistensi Pemkab dalam menjaga ekosistem dan satwa dilindungi.
“Kami sangat gembira, setelah dua tahun pembangunan, baru-baru ini tercatat Orangutan Sumatera atau yang dikenal warga sebagai Mawas telah melintasi jembatan kanopi buatan di jalur Lagan–Pagindar. Kerja sama ini hasil sinergi BBKSDA, TaHuKah, dan Pemkab Pakpak Bharat. Bahkan hingga kini belum terjadi konflik antara satwa dan masyarakat,” ujar Novita.
Menyambut hal tersebut, Bupati Franc menyatakan dukungan penuh sekaligus berharap kawasan konservasi kelak menjadi sumber ekonomi baru bagi warga. Ia juga membuka peluang pengembangan ekowisata yang tidak bertentangan dengan aturan perlindungan.
“Kita harus hidup berdampingan dengan satwa. Selain konservasi, potensi kawasan juga bisa dikembangkan menjadi wisata berbasis satwa yang tidak dilindungi, termasuk kawasan berburu terukur di wilayah seperti Siranggas atau Sicike-cike. Setelah operasional TPL dihentikan, populasi rusa mulai pulih dan siamang semakin sering terdengar suaranya. Kami siap mendukung, bahkan dengan menerbitkan Perda, sepanjang demi kepentingan negara dan kesejahteraan masyarakat,” tegas Bupati.
















