Sidikalang-Indonesia24News.com
Satu pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang meninggal dunia karena tidak mendapat rujukan sistim ter integrasi (Sisrute). Peristiwa itu viral dalam video diunggah FB Landen Landen dan pihak RSUD Sidikalang dituding lamban memberikan rujukan ke rumah sakit lain.
Ironisnya, video itu terus menyebar dan masing masing memberikan pendapat minor dan mengkritik Direktur RSU bahkan sampai ke Bupati Dairi.
Hal ini sangat disayangkan oleh Direktur RSUD Sidikalang, dr. Mey Sitanggang. Disebutkan, boleh berpendapat tapi jangan berasumsi yang belum tentu benar.
Komentar minor di medsos ini bermula meninggalnya salah satu pasien RSUD Sidikalang atas nama Tiamsa Banjarnahor (78), Minggu (18/1) dan viral diunggah akun FB Landen Landen, dan menuding meninggalnya pasien akibat penundaan rujukan ke Rumah Sakit lain di Medan.
Video ini menyebar ke salah satunya di group Dairi Kekelengen (WAG DK) tepatnya pada akun Marhaenis dengan nada sinis
“Pemkab Dairi tutup mata atas keluh kesah, aspirasi masyarakat yg beredar dipublik. Ini cerminan kepemimpinan Bupati yg tidak mampu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab”
Postingan kritikan ini dinilai kurang etis karena tanpa tau kebenaran sesungguhnya namun akun Marhaenis sudah mengkritik Bupati Dairi Ir.Vikcner Sinaga.
Direktur RSUD Sidikalang. dr Mey Sitanggang menjelaskan kejadian yang sebenarnya berdasarkan diagnosa dokter Spesialis Dalam.
Direktur RSU Sidikalang berharap jangan murah berasumsi jika tidak mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
” Pasien sudah diupayakan dirujuk ke rumah sakit lain di Medan melalui SISRUTE agar pasien dirujuk ke RS lain di Medan, tapi tidak ada satupun rumah sakit di Medan, menyatakan kesediaan menerima pasien, ujarnya menjelaskan.

Tak ada Hubungannya Dengan Bupati
Meninggalnya pasien RSUD Sidikalang atas nama Tiamsa Banjar Nahor (78) penduduk desa Perrik Mbue. Bupati Dairi ikut terseret sorotan miring dilontarkan akun Marhaenis di WAG DK.
Kritik ini dianggap berlebihan, jelas Togar Togatorop salah seorang tokoh masyarakat Kabupaten Dairi di Sidikalang ketika diminta komentar. Apakah pantas Bupati Dairi Ir.Vickner Sinaga jadi sasaran kritikan pedas karena peristiwa itu?
Pengalaman serupa pernah dirasakan keluarga Togar Togatorop tidak mendapatkan rujukan ke RS Medan karena rumah sakit tujuan dinyatakan penuh.
Menurutnya, pasien meninggal itu akibat aturan yang dibuat BPJS yakni SISRUTE, dimana diatur kalau Rumah Sakit mau merujuk pasien ke rumah sakit lain misalnya di Medan, pihak rumah sakit harus menghubungi rumah sakit tujuan.
Apabila rumah sakit tujuan menolak dengan alasan pasien penuh, maka sesuai dengan aturan pasien mau tak mau harus ditangani di Rumah Sakit awal sampai ada rumah sakit rujukan yang mau menerima.
Tetapi kalau keluarga membawa pasien langsung ke rumah sakit di Medan misalnya, langsung saja dibawa ke IGD. Akan tetapi di Rumah Sakit awal harus membayar sebagai pasien umum, agar di Medan nantinya bisa menggunakan BPJS (Ginting)





























